Adu Penalti yang (Terasa) Tidak Adil

Manakala pertandingan sepak bola harus berlanjut dengan adu penalti selalu terjadi kekecewaan, baik bagi pemain maupun bagi fotografer. Bagi pemain, kemenangan dari adu penalti kadang lebih mencerminkan keberuntungan daripada kemampuan. Adapun bagi fotografer, adu penalti artinya adalah semua foto bagus yang sudah dihasilkan menjadi tidak penting lagi. Foto yang akan dipakai tempatnya bekerja tentu saja foto adu penalti itu.
Sebuah adu penalti selalu memamerkan ketegangan yang tinggi pada kedua kubu pemain. Kemampuan personal sudah tidak berperan lagi di sini. Pemain sekelas Diego Maradona saja pernah gagal mengeksekusi penalti walau sesungguhnya seorang kiper pun hanya bisa menebak-nebak arah bola. Kecepatan bola penalti plus jaraknya yang sangat dekat sudah tidak akan mampu diikuti mata manusia normal seorang kiper.
Dalam memotret sebuah adu penalti, fotografer harus tahu di mana menempatkan diri untuk mendapatkan adegan sebaik-baiknya. Yang pasti, dalam pertandingan kelas internasional, tidak boleh ada fotografer atau siapa pun di belakang gawang. Kalau ingin mendapatkan foto dari belakang kiper, mau tidak mau harus menempatkan kamera dengan pengontrol jarak jauh (remote control).
Dalam adu penalti, hal-hal terpenting yang bisa dipotret adalah adegan kegagalan seorang kiper atau, sebaliknya, adegan keberhasilan seorang kiper menangkap atau menepis bola.
Dan, adegan yang paling menarik adalah adegan saat sebuah tim menang dalam adu penalti tersebut. Titik pemotretan adalah saat peralihan dari suasana tegang menjadi suasana sangat senang. Seorang fotografer harus sudah mengarahkan kamera dan lensanya ke kelompok pemain saat sebuah tendangan penalti menentukan akan dilakukan. Adegan kekecewaan pun merupakan adegan yang menarik.
Foto-foto suasana adu penalti yang ada di halaman ini merupakan contoh-contoh untuk memberi Anda gambaran pada saat memotret peristiwa adu penalti.
Tidak adil? Memang. Pemain kecewa, fotografer pun pasti kecewa, bukan? Arbain Rambey



