Selasa, 08 Juni 2010

Adu Penalti yang (Terasa) Tidak Adil

Adu Penalti yang (Terasa) Tidak Adil

Manakala pertandingan sepak bola harus berlanjut dengan adu penalti selalu terjadi kekecewaan, baik bagi pemain maupun bagi fotografer. Bagi pemain, kemenangan dari adu penalti kadang lebih mencerminkan keberuntungan daripada kemampuan. Adapun bagi fotografer, adu penalti artinya adalah semua foto bagus yang sudah dihasilkan menjadi tidak penting lagi. Foto yang akan dipakai tempatnya bekerja tentu saja foto adu penalti itu.

Sebuah adu penalti selalu memamerkan ketegangan yang tinggi pada kedua kubu pemain. Kemampuan personal sudah tidak berperan lagi di sini. Pemain sekelas Diego Maradona saja pernah gagal mengeksekusi penalti walau sesungguhnya seorang kiper pun hanya bisa menebak-nebak arah bola. Kecepatan bola penalti plus jaraknya yang sangat dekat sudah tidak akan mampu diikuti mata manusia normal seorang kiper.

Dalam memotret sebuah adu penalti, fotografer harus tahu di mana menempatkan diri untuk mendapatkan adegan sebaik-baiknya. Yang pasti, dalam pertandingan kelas internasional, tidak boleh ada fotografer atau siapa pun di belakang gawang. Kalau ingin mendapatkan foto dari belakang kiper, mau tidak mau harus menempatkan kamera dengan pengontrol jarak jauh (remote control).

Dalam adu penalti, hal-hal terpenting yang bisa dipotret adalah adegan kegagalan seorang kiper atau, sebaliknya, adegan keberhasilan seorang kiper menangkap atau menepis bola.

Dan, adegan yang paling menarik adalah adegan saat sebuah tim menang dalam adu penalti tersebut. Titik pemotretan adalah saat peralihan dari suasana tegang menjadi suasana sangat senang. Seorang fotografer harus sudah mengarahkan kamera dan lensanya ke kelompok pemain saat sebuah tendangan penalti menentukan akan dilakukan. Adegan kekecewaan pun merupakan adegan yang menarik.

Foto-foto suasana adu penalti yang ada di halaman ini merupakan contoh-contoh untuk memberi Anda gambaran pada saat memotret peristiwa adu penalti.

Tidak adil? Memang. Pemain kecewa, fotografer pun pasti kecewa, bukan? Arbain Rambey

Kemelut di Depan Gawang

Kemelut di Depan Gawang

MEMOTRET pertandingan sepak bola punya sebuah hal yang hampir sama dengan memotret beberapa cabang olahraga lain. Hal itu adalah pada beberapa kesempatan sang fotografer sungguh tidak tahu apa yang telah dihasilkan kameranya karena adegan yang terjadi terlalu cepat untuk dilihat mata normal.

Dengan kenyataan ini, pada saat-saat tertentu dibutuhkan kemampuan fotografer untuk membingkai ”adegan yang diramalkan akan terjadi”. Dengan kata lain, seorang fotografer kadang harus mengarahkan lensanya ke sebuah arah dengan prediksi akan terjadi kejadian yang secara fotografis menarik.

Ada banyak prediksi, salah satunya adalah pada kejadian sepak pojok.

Pada sebuah pertandingan sepak bola hampir selalu terjadi sepak pojok, bukan? Anda yang sering menyaksikan pertandingan sepak bola tentu hafal sekali urutan kejadian dalam sebuah sepak pojok. Bola ditendang dari sudut lapangan, melambung, lalu jatuh kira-kira di depan gawang. Adegan yang kemudian terjadi adalah ada kiper yang berusaha menangkap atau menepis bola itu, ada pemain bertahan yang juga berusaha menghalau bola, atau ada pemain lawan yang berusaha memasukkan bola ke dalam gawang.

Dari urutan tersebut, salah satu cara untuk mendapatkan foto pada situasi kemelut di depan gawang adalah fotografer mengarahkan lensanya ke titik di mana bola jatuh setelah ditendang dari pojok. Saat bola jatuh itulah, dengan fokus dan panjang fokal lensa yang harus tepat, fotografer bisa menekan rana untuk mendapatkan adegan-adegan yang hampir selalu menarik.

Sekali lagi harus ditegaskan bahwa saat menekan rana itu, sungguh sang fotografer tak terlalu tahu gambar seperti apa yang dihasilkannya. Memotret kemelut di depan gawang memang semata memotret adegan yang diramalkan dan diharapkan terjadi. Satu-satunya kemudahan yang ada adalah gerakan bola yang relatif masih bisa diikuti mata sehingga posisi jatuhnya juga mudah ”dikejar”.

Di halaman ini disajikan beberapa foto yang dibuat pada sebuah kemelut di depan gawang. Perhatikan bahwa hanya lensa tele minimal 300 milimeter yang bisa dipakai karena fotografer tidak bisa masuk ke dalam lapangan kapan pun. Perhatikan pula bahwa fokus harus tepat karena dengan panjang fokal yang besar plus diafragma terbuka lebar untuk mengejar kecepatan rana tinggi, ruang tajam lensa sangatlah minim.

Pemotretan yang diulas ini adalah salah satu cara tercepat untuk mendapatkan foto sepak bola yang menarik. Kendala utama untuk hal ini adalah bisa jadi posisi kiper dan pemain lain membelakangi fotografer, alias sang fotografer sedang tidak beruntung dari segi posisi. Kesalahan yang paling sering terjadi untuk cara ini adalah posisi fokus lensa tidak jatuh di tempat yang tepat. Cara pemotretan ini sekilas tampak mudah, tetapi tetap membutuhkan latihan dan pengalaman. Arbain Rambey

Beberapa Detik Setelah Terjadinya Gol

Beberapa Detik Setelah Terjadinya Gol

Pada sebuah pertandingan sepak bola, terjadinya gol adalah salah satu hal terpenting. Namun, kejadian terjadinya gol sebenarnya lebih menarik untuk disaksikan saja. Untuk fotografi sepak bola, peristiwa yang lebih fotografis justru terjadi beberapa detik setelah gol tercipta, yaitu adegan-adegan perayaan.

Banyak penggemar bola masih ingat betul gaya Bebeto (Brasil) setelah mencetak gol di Piala Dunia 1994 (Amerika Serikat). Waktu itu Bebeto baru saja mempunyai anak yang baru lahir. Maka, seusai mencetak gol, ia lari ke tepi lapangan lalu membuat gerakan seakan menimang bayi.

Entah gaya itu sangat menarik atau banyak orang latah, gaya menimang bayi itu masih bisa kita saksikan saat ini di berbagai pertandingan sepak bola, bahkan di Indonesia. Enam belas tahun sudah berlalu, gaya menimang bayi masih menjadi salah satu gaya perayaan kemenangan dalam sebuah pertandingan sepak bola.

Sepak bola wanita

Dalam sepak bola wanita pun, sebuah foto adegan Brandi Chastain (AS) yang mencopot kausnya (untunglah dia memakai pakaian dalam) setelah mencetak gol pada Piala Dunia Sepak Bola Wanita 1999 sudah menjadi salah satu foto klasik dalam dunia fotografi sepak bola.

Banyak sekali gaya pemain setelah mencetak sebuah gol. Mulai dari sekadar membuka kaus dan berlari ke tepi lapangan, lari menjumpai penggemarnya, sampai dengan adegan pemain lawan yang menyesali kesalahannya, sungguh merupakan adegan fotografi yang luar biasa.

Dalam memotret adegan perayaan gol, seorang fotografer harus segera bersiap manakala sebuah gol tercipta. Segera cari pemain yang membuat gol, dan ikuti dia dengan lensa. Pastikan bahwa selama mengikuti gerakannya, titik fokus selalu terjaga. Manakala Anda tidak terlalu yakin pada kecepatan otofokus lensa (misalnya baju pemain putih total sehingga otofokus terganggu), pakailah fokus manual.

Selama mengikuti gerakan pemain yang merayakan gol, siapkan untuk menekan tombol rana setiap saat. Adegan-adegan tak terduga bisa muncul.

Banyak ”titik puncak” untuk diabadikan, misalnya, ekspresi yang meledak-ledak, sambutan rekan yang antusias, sampai dengan pelukan penggemar yang menunggu di tepi lapangan (pada pertandingan kecil, penonton bisa duduk di tepi lapangan).

Bagaimanapun, pemain yang membuat gol memang bintang dalam sebuah pertandingan. Arbain Rambey